Sabtu, 07 September 2013

Skripsi KIMIA Lengkap



BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Masalah
Kualitas pendidikan kimia di Indonesia saat ini masih merupakan salah satu bahan yang menjadi perhatian para ahli pendidikan kimia di sekolah. Pemahaman konsep kimia dan pembelajarannya yang dilaksanakan di sekolah-sekolah kita sampai saat ini rasanya sulit untuk menghadapi masa depan yang serba tidak diketahui. Guru cenderung hanya memberikan/memindahkan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa sehingga konsep-konsep, prinsip-prinsip dan aturan-aturan dalam kimia terkesan saling terisolasi dan tidak bermakna.
Menurut Marsetio (dalam Trianto, 2010) Kimia merupakan salah satu rumpun IPA yang dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, sebagai produk dan sebagai prosedur. Sebagai proses dapat diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan maupun menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan sebagai hasil proses berupa pengetahuan untuk penyebaran pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan adalah cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu.
Bagi kebanyakan siswa sekolah menengah, kimia dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi kimia yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan ‘angker’, sulit, menakutkan dan akhirnya banyak siswa yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Lubis, 2007).
Penggunaan praktikum sangat penting dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya Ilmu Kimia. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan bidang yang mengkaji fakta-fakta empiris yang ada di alam, sehingga untuk mempelajarinya harus melalui pengkajian di laboratorium yang didesain sebagai miniatur alam. Selain kegiatan laboratorium yang merupakan sarana untuk mengembangkan dan menerapkan keterampilan proses IPA, membangkitkan minat belajar dan memberikan bukti-bukti bagi kebenaran teori atau konsep-konsep yang telah dipelajari mahasiswa sehingga teori atau konsep-konsep tersebut menjadi lebih bermakna pada struktur kognitif siswa (Nugraha, 2008).
Eksperimen/praktikum adalah salah satu cara mengajar kepada siswa dan siswa melakukan percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya. Eksperimen adalah cara penyajian pelajaran kepada siswa dimana siswa melakukan percobaan dalam mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa eksperimen adalah penyajian pelajaran kepada siswa, siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri mengenai suatu materi atau masalah, sehingga siswa dapat mengetahui dan mengerti tujuan pembelajaran melalui kegiatan eksperimen (Roestyah, 1986).
Salah satu usaha yang dapat digunakan untuk dapat membuat siswa tertarik untuk belajar kimia (meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang dipelajari) dan mengajak siswa terlibat penuh dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan menerapkan metode praktikum dalam pembelajaran. Metode praktikum merupakan salah satu metode pembelajaran yang menyajikan suasana konkrit dalam memverifikasi, mengembangkan suatu konsep dan merupakan wahana untuk memperkuat kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Metode praktikum ini lebih menekankan kepada pendekatan keterampilan proses dalam proses pembelajaran (Puskur, 2003).
Keunggulan metode praktikum adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisa, membuktikan secara menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan dan proses sesuatu. Manfaat dari praktikum diantaranya membangkitkan minat dan aktivitas belajar siswa serta memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas (Sembiring,2008).
  Dengan diberlakukannya ujian praktikum sebagai salah satu syarat kelulusan bagi siswa kelas XII SMA, sekolah dituntut untuk siap dalam menghadapi ujian praktikum kimia sesuai standar kompetensi kelulusan. Bentuk kesiapan sekolah yaitu menyediakan laboratorium kimia yang memenuhi jenis minimal peralatan dan bahan praktikum kimia dan standar jumlah peralatan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan dan bahan kimia per siswa. Ada kira-kira 20 topik kimia yang ideal yang dapat dilakukan oleh siswa SMA selama mereka belajar kimia di SMA, namun kenyataannya hanya 3,6% siswa melakukan labih dari 10 kali praktikum selama menjalani pendidikan di SMA (Jahro, 2009).
Penuntun Praktikum perlu didesain sedemikian rupa sehingga menarik, sesuai dengan kebutuhan siswa, mudah dilaksanakan dan tidak terlau banyak membutuhkan alat dan bahan. Penuntun Praktikum merupakan suatu pedoman dalam melaksanakan praktikum dan juga sebagai alat evaluasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Untuk itu perlu disusun suatu pedoman penuntun praktikum kimia dengan cara meriview semua dokumen/buku tentang pengelolaan laboratorium kimia yang ada selama ini.
Berdasarkan uraian permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan dan Standarisasi Penuntun Praktikum SMA Kelas X Semester II”


1.2              Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka timbul pertanyaan-pertanyaan yang perlu dicari jawabannya yaitu: Bagaimanakah model dan isi buku Penuntun Praktikum Kimia yang digunakan di beberapa sekolah di kota Medan? Bagaimana seharusnya model buku petunjuk praktikum kimia yang baik sesuai dengan tuntutan KTSP? Apakah buku penuntun praktikum kimia dapat membangun pemahaman siswa terhadap teori yang diterima dalam kelas? Apakah buku petunjuk praktikum kimia dapat dilaksanakan dengan fasilitas laboratorium yang sederhana? Apakah waktu yang tersedia mencukupi untuk praktikum? Apakah buku petunjuk praktikum kimia mudah dipahami dan aman dilaksanakan?




1.3              Rumusan Masalah
Untuk memberikan arahan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian, maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Materi kimia apa saja yang layak dilakukan dengan metode praktikum agar mendukung penyampaian materi sehingga mudah dipahami siswa dalam pembelajaran?
2.      Bagaimana susunan Penuntun Praktikum Kimia SMA  yang sesuai dengan tuntutan KTSP untuk dipergunakan di SMA?
3.      Bagaimana Penuntun Praktikum Kimia yang layak dan menarik, mudah dilaksanakan, aman bagi praktikan sewaktu pelaksanaan dan dapat membantu siswa kelas X dalam mempelajari kimia?
4.      Apakah penuntun praktikum yang telah disusun dan diuji coba dapat meningkatkan minat siswa untuk mempelajari kimia?

1.4              Batasan Masalah
Agar penelitian memberikan arah yang tepat, maka masalah perlu dibatasi sebagai berikut:
1.      Masalah penelitian dibatasi pada materi kimia SMA kelas X semester genap sesuai pertimbangan ilmiah yang mendukung materi kimia yang relevan dan dapat di praktikumkan.
2.      Uji coba buku penuntun praktikum kimia dilakukan secara mikro pada mahasiswa yang terpilih sesuai tujuan penelitian pada materi pokok Reaksi Reduksi-Oksidasi.
3.      Menyusun buku petunjuk praktikum kimia SMA kelas X semester genap, yaitu mengembangkan dari buku petunjuk yang telah ada.






1.5              Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengembangkan buku Penuntun Praktikum kimia SMA kelas X semester genap sesuai dengan tuntutan KTSP
2.      Menstadarisasi buku Penuntun Praktikum kimia kelas X semester genap sesuai dengan tuntutan KTSP
3.      Menyusun buku Praktikum Kimia kelas X semester genap yang dipergunakan sebagai pendukung pembelajaran di sekolah

1.6              Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus media bagi guru bidang studi kimia dalam melaksanakan praktikum di sekolah.

2.      Bagi Siswa
Dapat menuntun siswa dalam melaksanakan praktikum kimia dan meningkatkan prestasi belajar kimia siswa.

3.      Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengelaman peneliti untuk menyusun buku panduan praktikum.

4.      Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi peneliti lain yang penelitiannya berkaitan dengan pengembangan penuntun praktikum pada topik kimia lainnya.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1       Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
            Muslih (dalam Situmorang, 2007) menyatakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya setempat dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervisi dinas Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KTSP merupakan perangkat standar program pendidikan yang mengantarkan siswa memiliki kompetensi pengetahuan dan nilai-nilai yang digunakan dalam berbagai kehidupan.
            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungan, 2)  beragam dan terpadu, 3) tanggap terhadap kehidupan, 4) relevan dengan kebutuhan kehidupan, 5) menyeluruh dan berkesinambungan, 6) belajar sepanjang hayat, 7) seimbang antara kepentingan nasional dan daerah. Sementara itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun dengan memperhatikan acuan operasional sebagai berikut: 1) peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia, 2) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, 3) keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan, 4) tuntutan pembangunan daerah dan nasional, 5) tuntutan dunia kerja, 6) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, 7) agama, 8) dinamika perkembangan global, 9) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan, 10) kondisi sosial budaya masyarakat setempat, 11) kesetaraan gender, 12) karakteristik satuan pendidikan (Situmorang, 2011).
            Dalam implementasi KTSP, guru memiliki peranan yang sangat penting karena guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Kurikulum yang sempurna tanpa didukung oleh kemampuan guru tidak akan memiliki makna. Guru berperan sebagai perencana, pengelola dan sebagai evaluator.
           
2.2       Kegiatan Praktikum di Laboratorium
Praktikum berasal dari kata praktik yang artinya pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori. Sedangkan praktikum dalam pendidikan adalah suatu metode mendidik untuk belajar dan mempraktikan segala aktivitas dalam proses belajar mengajar untuk menggunakan suatu keahlian (Kertawidjaya, 1999).
            Percobaan laboratorium melibatkan guru dan siswa. Guru harus menetapkan tujuan dari percobaan, mempersiapkan kelas agar siap melakukan percobaan, memberikan perhatian pada faktor-faktor keamanan (rambu-rambu kimia) untuk mengawasi siswa dalam melakukan percobaan yang tepat. Kegiatan siswa dalam percobaan laboratorium harus dirinci dalam petunjuk laboratorium yang dipersiapkan untuk percobaan.
            Salah satu sasaran praktikum kimia adalah menuntun dan melatih siswa untuk berpikir dari konkrit ke abstrak. Dalam hal ini, kegiatan di dalam laboratorium merupakan mata rantai untuk menghubungkan beberapa aspek diantaranya: Apresiasi aspek estetika dari ilmu kimia, membangkitkan keingintahuan terhadap ilmu kimia, mengenal dengan baik zat-zat kimia yang umum dan bagaimana reaksinya, siswa dapat berpartisipasi aktif.
            Laboratorium kimia adalah salah satu sarana pendidikan, yakni wadah yang dapat digunakan sebagai tembat berlatih. Melalui praktikum, siswa dapat mengadakan kontak dengan objek yang dipelajari secara langsung baik melalui pengamatan maupun dengan melakukan percobaan.
Woolnough & Allsop (dalam Nuryani Rustaman, 1995), mengemukakan empat alasan mengenai pentingnya praktikum sains. Pertama, praktikum membangkitkan motivasi belajar sains. Belajar siswa dipengaruhi oleh motivasi. Siswa yang termotivasi untuk belajar akan bersunguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu. Melalui kegiatan laboratorium, siswa diberi kesempatan untuk memnuhi dorongan rasa ingin tahu dan ingin bisa. Prinsip ini akan menunjang kegiatan praktikum dimana siswa menemukan pengetahuan melalui eksplorasinya terhadap alam. Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Melakukan eksperimen merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Untuk melakukan eksperimen ini diperlukan beberapa keterampilan dasar seperti mengamati, mengestimasi, mengukur, dan memanipulasi peralatan biologi. Dengan kegiatan praktikum siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara akurat dengan alat ukur yang sederhana atau lebih canggih, menggunakan dan menangani alat secara aman, merancang, melakukan dan menginterprestasikan eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran. Dari kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa praktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.


2.3       Praktikum Kimia di SMA
Kimia merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi sebahagian siswa karena pelajaran kimia sangat identik dengan nama zat, rumus, dan hitung-hitungan sehingga menjadi momok yang menakutkan yang menimbulkan banyak para siswa yang menghindari pelajaran tersebut. Praktikum sebagai bagian dari pembelajaran dari proses kimia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari teori kimia. Dikarenakan praktikum memberikan peluang kepada subjek dalam pemahaman materi ajar. Disisi lain, konsep teori kimia akan memberikan landasan baru bagi subjek didik untuk lebih aktif dalam melakukan praktikum.  (http://www.wahyumedia.com).
            Mempelajari Ilmu Kimia bukan hanya menguasai kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan dan penguasaan prosedur atau metode ilmiah. Oleh karena itu dalam pembelajaran ilmu kimia ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yakni kimia sebagai produk temuan para ilmuwan berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan kimia sebagai proses berupa kerja ilmiah. Dengan demikian pembelajaran ilmu kimia tidak tepat jika dilakukan hanya dengan metode ceramah, melainkan perlu metode yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk  melakukan suatu proses kerja ilmiah. Pengajaran Kimia di SMA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siwa untuk mengembangkan kemampuan dan sikap ilmiah dalam mempelajari alam dan fenomena alam di sekitarnya yang berdampak terhadap pengembangan lebih lanjut dalam penerapan di kehidupan sehari-hari maupun industry (Jahro, 2009).
            Menurut Adrian dalam (Muslich, 2008) mengemukakan adapun kelebihan kegiatan percobaan atau praktikum adalah membuat anak didik percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menggunakan kata-kata guru, dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi, menjelajahi ilmu dan teknologi dan terbina manusia yang dapat membuat terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan siswa. Dan kekurangan dari kegiatan praktikum adalah tidak cukupnya alat-alat mengakakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan bereksperiment, memerlukan jangka waktu lama, sehingga anak didik perlu menunggu untuk melanjutkan pelajaran.
            Metode praktikum dalam pembelajaran kimia juga memiliki kelemahan yaitu tidak semua mata pelajaran dapat diajarkan dengan metode ini, tidak semua hal dapat dipraktekkan. Hanya hal-hal yang konkrit yang dapa dilakukan, suatu praktikum tidak selalu berhasil seperti yang diharapkan, mahalnya alat-alat praktikum sekolah sering merupakan hambatan untuk melakukan praktikum dilaboratorium sekolah maupun di kelas. Untuk mengatasi kelemahan ini, guru harus benar-benar menanamkan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam suatu praktikum kepada murid-muridnya sebelum murid-muridnya memahami dan hapal langkah-langkah yang harus dilakukannya barulah eksperimen dilakukan. Oleh karen itu sebelum melakukan praktikum di depan kelas, guru harus mencoba melakukannya sendiri. Jika ada hal-hal yang berbahaya maka hal itu harus dicatat dan segera diberitahukan kepada murid-murid agar tidak terjadi kecelakaan pada waktunya (Sihole, 2006).

2.4       Efektifitas Praktikum dalam Pembelajaran
Hasil survei terhadap beberapa Sekolah Menengah Atas di kota Medan dan sekitarnya menunjukkan kebanyakan sekolah tidak menerapkan kegiatan praktikum maupun demonstrasi pada pembelajaran kimia dikarenakan fasilitas laboratorium yang minim serta kurangnya kemampuan dan kemauan guru kimia dalam mengelola laboratorium dan kegiatan praktikum. Dalam 29 SMA yang disurvei di kota Medan dan sekitarnya menunjukkan 65,5% SMA telah memiliki laboratorium tapi kegiatan praktikumnya belum berlangsung sesuai yang diharapkan baik kuantitas maupun kualitasnya.
            Kurang lengkapnya fasilitas alat-alat dan bahan–bahan kimia untuk keperluan praktikum bukan alasan yang masuk akal tidak dilaksanakannya kegiatan praktikum, karena hal itu dapat diatasi dengan membuat rancangan praktikum sederhana menggunakan alat dan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar siswa. Untuk itu diperlukan guru Kimia yang memiliki kemauan keras dan kreatifitas untuk menguasai keterampilan proses Kimia dalam merancang eksperimen (Jahro, 2009).
Kegiatan praktikum merupakan salah satu upaya untuk menerapkan keterampilan proses, tetapi bila tidak dioptimalkan kegiatan praktikum kurang memberikan manfaat kepada siswa. Dari hasil pengamatan banyak ditemukan siswa tidak memahami tujuan dari percobaan yang dilakukan dan sangat jauh untuk memahami sikap konsep yang terdapat pada materi praktikum tersebut. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi kegiatan praktikum kimia di laboratorium sehingga para siswa memperoleh manfaat yang banyak dari kegiatan praktikum tersebut (Nugraha, 2005).

2.5       Materi Kimia Kelas X
            Pokok materi Kimia yang dibahas pada kelas X (sepuluh) semester genap adalah Daya Hantar Listrik Larutan yang terdiri dari sub pokok bahasan: Gejala Hantaran Arus Listrik pada Larutan; Larutan Elektrolit dan Larutan Nonlektrolit; Hantaran Senyawa Ionik dan Senyawa Kovalen. Reakdi Reduksi Oksidasi yang terdiri dari sub pokok bahasan: Konsep Reaksi Redoks; Pereduksi dan Pengoksidasi; Aplikasi larutan Elektrolit dan Reaksi Redoks; Tata Nama Senyawa. Hidrokarbon yang terdiri dari sub pokok bahasan: Mengenal Senyawa Karbon; Pengujian Senyawa Karbon, Kekhasan Atom Karbon, Pembentukan Senyawa Karbon Diksida.





Tabel 2.1  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kimia di SMA/MA untuk kelas X semester II (Genap)
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Memahami sifat-sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit serta reaksi oksidasi-reduksi
3.1   Mengidentifikasi sifat larutan nonelektrolit dan elektrolit berdasarkan data hasil percobaan
3.2   Menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi-reduksi dan hubungannya dengan tata nama senyawa serta penerapannya
4. Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa makromolekul
4.1 Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon
4.2   Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubungannya dengan sifat senyawa
4.3    Menjelaskan proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta kegunaannya
4.4    Menjelaskan kegunaan dan komposisi senyawa kimia dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang pangan, sandang, papan, perdagangan, seni dan estetika.












Tabel 2.2         Materi Pokok Kimia Kelas X  Semester II (Genap) yang Memiliki Kemungkinan Praktek

No
Materi Pokok
Kemungkinan Praktek
Dikembangkan
Dapat
Tidak Dapat
1










2















3






















Daya Hantar Listrik Larutan
2.1   Gejala hantaran arus listrik pada larutan


2.2   Larutan elektrolit dan nonelektrolit

2.3 Hantaran senyawa ionik dan  senyawa kovalen


Reaksi Reduksi Oksidasi
3.1     Konsep Reaksi Redoks



3.2     Pereduksi Dan Pengoksidasi


3.3     Aplikasi Larutan Elektrolit dan Reaksi Redoks


3.4     Tata Nama Senyawa



Kimia Karbon
4.1 Mengenal senyawa  karbon





4.2 Pengujian senyawa karbon




4.3      Kekhasan aton karbon


4.4 Pembentukan senyawa karbon dioksida








































































Dapat dilakukan melalui uji coba Elektrolitas Larutan untuk Mengetahui Daya Hantar Listrik Larutan








Dapat dilakukan memalui uji coba: Mengamati Reaksi Redoks


Dapat dilakukan melalui uji coba; Mengamati perubahan Biloks

Dapat dilakukan melalui uji coba; Mengamati Redoks Pada Logam dan Larutan








Dapat dilaksanakan melalui pengujian kandungan aton C, H dan O dalam gula dan glukosa


2.6       Hipotesis
1.      Penuntun praktikum Kimia SMA kelas X sesuai dengan tuntutan KTSP dapat dikembangkan
2.      Standarisasi penuntun praktikum Kimia dapat dilakukan sesuai dengan tuntutan KTSP melalui data yang diperolah dari hasil angket yang diiisi oleh dosen, guru bidang studi Kimia dan mahasiswa
3.      Penuntun praktikum hasil pengembangan dapat dipergunakan untuk mendukung pembeajaran di sekolah














BAB III
METODE PENELITIAN

3.1       Gambaran Penelitian
            Adapun penelitian yang dilaksanakan menggunakan model pembelajaran kimia yang berorientasi pada eksperimen melalui pengembangan penuntun praktikum pada mata pelajaran kimia SMA kelas X (sepuluh) atau disebut Education Research and Development. Penelitian ini berorientasi pada pengembangan produk yang dideskripsikan seteliti mungkin dan dilakukan evaluasi pada produk yang diuji melalui tingkat kelayakan dan tingkat keterlaksanaan.
            Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh peneliti di beberapa sekolah ada di kota Medan, Binjai dan Deli Serdang II diperoleh data sebagai berikut: SMA St.Thomas 2 Medan menggunakan buku penuntun praktikum Kimia tebitan Erlangga, SMA  Methodist 2 Medan menggunakan buku penuntun praktikum Kimia yang disusun Tim guru Kimia sekolah Methodist 2, SMA Sutomo 1 Medan menggunakan buku penuntun praktikum Kimia yang disusun Tim guru Kimia sekolah Sutomo Medan, SMA N 1 Binjai menggunakan buku petunjuk praktikum Kimia yang disusun oleh Tim guru Kimia sekolah SMA N 1 Binjai, SMA 1 Galang menggunakan buku petunjuk praktikum Kimia yang disusun oleh Tim guru Kimia SMA N 1 Galang.

3.2       Waktu dan Lokasi Penelitian
            Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2012 di Laboratorium Kimia FMIPA UNIMED

3.3       Populasi dan Sampel Penelitian
            Populasi dalam penelitian yang akan dilaksanakan mencakup Dosen Kimia, Guru kimia yang mengajar secara aktif di sekolah, Mahasiswa Kimia angkatan 2011 dan Buku Penuntun Praktikum SMA kelas X yang dipakai di beberapa sekolah di Sumater Utara.
            Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dipilih secara representatif yang mencerminkan karakteristik dari populasi. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel yaitu: 1) buku praktikum Kimia SMA kelas X semester genap, 2) Sampel guru kimia SMA kelas X yang mengajar secara aktif di kelas yang dipilih sebagai responden dan mempunyai pengalaman mengajar berturut-turut minimal 3 tahun di SMA/MA Negeri atau SMA/MA Swasta yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Utara yang dipilih secara purposif sampling sebanyak lima orang, 3) Sampel Dosen Kimia FMIPA UNIMED yang akan dipilih secara purposif berdasarkan ukuran keahlian dalam bidang kimia dan pengajaran yang relevan dengan materi kimia SMA/MA sebanyak 2 orang, 4) Sampel Mahasiswa 2011 yang mengikuti Mata Kuliah Kimia Dasar secara purposive berdasarkan kemampuan pengetahuan kimia dasarnya sebanyak 32 orang.

3.4       Instrumen Penelitian
            Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket. Ada sebanyak 3 angket yang disusun guna menjaring informasi yang diperlukan dalam penyusunan penuntun praktikum yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku, yakni Angket yang akan diisi oleh guru Kimia SMA, Dosen Kimia, dan Mahasiswa jurusan kimia tahun angkatan 2011.
Angket yang pertama adalah angket yang akan diisi oleh guru untuk memperoleh informasi tentang kelayakan penuntun praktikum. Terdapat beberapa kriteria mengenai kelayakan penuntun prkatikum yang akan dikembangkan menjadi beberapa poin, yakni:
a) Kesesuaian materi penuntun praktikum dengan kurikulum yang sedang berlaku. Materi yang berada dalam penuntun praktikum harus dapat meningkatkan target pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan silabus SMA, b) Kelayakan isi penuntun praktikum yang dikembangkan yang meliputi: (1) Apakah prosedur kerja dirumuskan dengan benar sejalan dengan tinjauan teori, (2) Apakah tujuan percobaan tidak bersifat ganda, (3) Apakah alat dan bahan percobaan sesuai dengan tujuan percobaan, dan (4) Apakah tabel pengamatan yang digunakan dapat mewakili hasil percobaan secara keseluruhan. c) Kemudahan memahami dan kemudahan melaksanakan percobaan. Dari segi kemudahan dalam memahami dan melaksanakannya dapat ditinjau dari bahasa yang digunakan harus meliputi 3 kriteria yakni: 1) Bersifat komunikatif, 2) Sesuai dengna kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar dalam penuntun praktikum, 3) Kata-kata yang digunakan jelas dan mudah dipahami.
Angket yang kedua adalah angket yang akan diisi oleh Dosen untuk memperoleh informasi tentang kelayakan penuntun praktikum. Terdapat beberapa kriteria mengenai kelayakan penuntun prkatikum yang akan dikembangkan menjadi beberapa poin, yakni:
a) Kesesuaian materi penuntun praktikum dengan kurikulum yang sedang berlaku. Materi yang berada dalam penuntun praktikum harus dapat meningkatkan target pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan silabus SMA, b) Kelayakan isi penuntun praktikum yang dikembangkan yang meliputi: (1) Apakah prosedur kerja dirumuskan dengan benar sejalan dengan tinjauan teori, (2) Apakah tujuan percobaan tidak bersifat ganda, (3) Apakah alat dan bahan percobaan sesuai dengan tujuan percobaan, dan (4) Apakah tabel pengamatan yang digunakan dapat mewakili hasil percobaan secara keseluruhan. c) Kemudahan memahami dan kemudahan melaksanakan percobaan.



Dari segi kemudahan dalam memahami dan melaksanakannya dapat ditinjau dari bahasa yang digunakan harus meliputi 3 kriteria yakni:
1.      Bersifat komunikatif
2.      Sesuai dengna kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar dalam penuntun praktikum
3.      Kata-kata yang digunakan jelas dan mudah dipahami.
            Melalui angket II ini, peneliti dapat memutuskan apakah penuntun praktikum yang telah disusun layak digunakan sebagai pendukung dalam pembelajaran kimia di kelas XI SMA.
Angket ini diisi oleh mahasiswa dengan tujuan memperoleh informasi tentang daya serap mahasiswa terhadap isi atau pesan yang terkandung dalam buku penuntun pratikum. Penggunaan mahasiswa sebagai sampel karena mahasiswa yang mengikuti Mata Kuliah Kimia Dasar lebih terampil dan dapat memberikan komentar dan saran akan buku penuntun praktikum yang disusun sehingga hasilnya akan dapat digunakan sebagai pembanding terhadap pengetahuan siswa SMA.  Angket yang akan diisi oleh mahasiswa ini mempunyai tiga kriteria, yaitu: a) Apakah penuntun praktikum meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran kimia, b) Apakah siswa mampu memahami dan melaksanakan penuntun praktikum, c) Apakah minat siswa mempelajari kimia semakin meningkat setelah melakukan praktikum.







Kelayakan penuntun praktikum dapat dihitung dengan rumus:
% Skor =   x 100% (Wijaya, 2008)
Dengan kriteria kelayakan yakni:
No
Tingkat kelayakan
Skor
1
Sangat layak
86-100%
2
Layak
75-85%
3
Cukup layak
65-74%
4
Kurang layak
<65%


3.5       Prosedur Penelitian
            Secara garis besar, kegiatan penelitian ini terdiri atas 3 tahapan umum yakni:
I.       Perencanaan
Dalam tahapan perencanaan ini dibagi kembali menjadi atas beberapa tahapan kegiatan, yakni:
1.      Melakukan survei terhadap beberapa sekolah yang ada di kota Medan, Binjai dan Deli Serdang II tentang ketersediaan dan pemakaian buku penuntun praktikum kimia kelas X semester Genap
2.      Menentukan pokok bahasan yang dalam pembelajaran dapat diterapkan dengan menggunakan metode eksperimen sesuai dengan perkembangan kurikulum
3.      Menentukan sumber buku percobaan sebagai acuan penuntun praktikum
4.      Mengembangkan dan menyusun penuntun praktikum, yang terdiri atas kegiatan:
a.       Menentukan alat, bahan dan sumber yang akan diuji cobakan dalam suatu percobaan
b.      Menentukan jenis pengamatan
c.       Menentukan prosedur kerja yang akan dilaksanakan dalam percobaan
d.      Menyusun pertanyaan yang memuat pada pernyataan kesimpulan

II.    Pelaksanan
Tahapan kedua ini meliputi beberapa kegiatan yakni:
1.      Menguji kelayakan penuntun praktikum yaitu dengan memberikan lembaran penilaian dalam bentuk check list (Angket) yang berisi tanggapan/komentar terhadap judul praktikum, tinjauan teori, tujuan praktikum, daftar alat dan bahan, prosedur pelaksanaan serta lembaran pengamatan praktikum dari beberapa orang guru Kimia di SMA (Angket) dan dosen di Jurusan Kimia FMIPA UNIMED (Angket) mengenai kelayakan desain praktikum yang telah disusun berdasarkan tiga kriteria, yakni:
a.       Kelayakan isi sebagai buku penuntun praktikum
b.      Kesesuaian dengan pengembangan kurikulum SMA atau standar kompetensi dan kompetensi dasar yanga ada dalam kurikulum.
c.       Segi kemudahan dalam memahami dan kemudahan dalam pelaksanaannya.

Lembar validitas yang digunakan merupakan lembaran analisis kualitatif dengan tujuan untuk menilai materi, kontruksi dan bahasa yang digunakan pada penuntun praktikum (Tim pendidikan kimia, 2007). Dari hasil penilaian 1-4 pada lembar validitas, maka penguji kelayakan dapat menentukan setiap bagian dari materi penuntun praktikum tersebut sesuai atau tidak sesuai.
Keterangan:
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Baik sekali

2.      Perbaikan penuntun praktikum yaitu dengan menyesuaikan saran dan tanggapan dosen dan guru sehingga diharapkan dapat diperoleh penuntun praktikum yang sesuai.
3.      Melaksanakan uji coba penuntun praktikum yang telah diperbaiki di Laboratorium Kimia FMIPA UNIMED terhadap mahasiswa 2011 yang mengikuti mata kuliah Kimia Dasar terdiri atas kegiatan:
a.       Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
b.      Uji coba beberapa percobaan yang disesuaikan dengan penuntun praktikum yang telah disusun
c.       Mencatat hasil pengamatan uji coba
d.      Menarik kesimpulan dari hasil percobaan
e.       Mengevaluasi dan memperbaiki penuntun praktikum yang sudah diuji coba

III.   Pengolahan Data Hasil Penelitian
Analisa data dioleh berdasarkan tehnik analisa deskriptif kualitatis, yaitu menjelaskan suatu permasalahan, gejala, atau keadaan sebagaimana adanya. Dalam penelitian deskriptif, tidak ada perlakukan yang dikendalikan seperti halnya dalam penelitian eksperimen. Data yang ada tidak diarahkan untuk menguji hipotesis, melainkan digunakan untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan (Furchan, 2001). Data yang diperoleh dalam tehnik analisa deskriptif ini biasanya berupa kata-kata, gambar, ataupun perilaku. Data yang ada tidak dibuat dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memberikan pemaparan gambaran mengenai situasi  yang diteliti dalam bentuk uraian naratif sehingga peneliti dapat mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilaksanakan.
Tehnik analisis dan intrperensi dalam penelitian kualitatif yang tidak berhubungan langsung dengan angka biasanya berbentuk verbal (narasi, deskripsi atau cerita) dan sering kali mutlak untuk mengolah dam menginterperensikan data, pengkodean (kodifikasi) dan analisis data (Dwiyanto, 2003).

Kelayakan penuntun praktikum dapat dihitung dengan rumus:
% Skor =   x 100% (Wijaya, 2008)
Dengan kriteria kelayakan yakni:
No
Tingkat kelayakan
Skor
1
Sangat layak
86-100%
2
Layak
75-85%
3
Cukup layak
65-74%
4
Kurang layak
<65%











            Tahapan penelitian yang akan dilakukan dalam bentuk diagram alir pada gambar berikut:
Survei ketersediaan dan pemakaian buku penuntun praktikum di sekolah
 
                                                                          
Menentukan pokok bahasan yang diterapkan dengan eksperimen
Tahap II
Pelaksanaan
Menentukan sumber buku percobaan sebagai acuan penuntun praktikum
Mengembangkan dan menyusun buku penuntun praktikum
Menguji kelayakan buku penuntun praktikum (Angket)
Revisi buku penuntun praktikum
Mahasiswa menguji-coba penuntun praktikum dan mengisi angket
Tahap III
Analisis Data
Tahap I
Perencanaan
Kesimpulan
Analisis Data
 
















Gambar 3.1 Diagram Alur Tahapan Penelitian







Artikel terkait :

*      Kaset karate






0 komentar:

Posting Komentar